Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » Zakat Infaq Sedekah » Pengertian Zakat Profesi Menurut Yusuf Qardhawi

Pengertian Zakat Profesi Menurut Yusuf Qardhawi

(525 Views) April 1, 2016 3:06 am | Published by | No comment

zakat profesiPengertian Zakat Profesi Menurut Yusuf Qardhawi – Dalam kamus Bhs Inggris, arti profesi dikatakan sebagai profession, yang berarti pekerjaan, sedang menurut kamus besar bhs Indonesia dijelaskan kalau, profesi yaitu bagian pekerjaan yang didasari pendidikan ketrampilan (keterampilan, kerajinan, dsb).

Mahjuddin mengartikan profesi sebagai satu pekerjaan tetaplah dengan ketrampilan spesifik, yang bisa membuahkan upah, honor, gaji, atau imbalan. Jadi usaha profesi erat hubungannya dengan sikap profesional, yakni suatu hal hal yang dikerjakan dengan support kepandaian spesial untuk menjalankannya.

Menurut Yusuf Qardhawi, profesi dibagi jadi dua sisi, yakni Kasb al-Amal serta Mihan al-Hurrah. Kasb al-Amal yaitu pekerjaan seorang yang tunduk pada perseroan atau perorangan dengan memperoleh gaji. Mihan Al-Hurrah yaitu pekerjaan bebas, tak terikat pada orang lain. Dalam pengertian yang lain menurut Fachrudin, seperti diambil oleh Muhammad mengklasifikasikan usaha profesi kedalam sebagian persyaratan apabila diliat dari memiliki bentuk :

a. Usaha fisik
b. Usaha fikiran
c. Usaha kedudukan
d. Usaha modal

Zakat Profesi dilihat dari Hasil Usaha

a. Hasil yang teratur serta tentu, baik tiap-tiap bln., minggu atau hari b. Hasil yg tidak tetaplah serta tidak bisa diprediksikan dengan cara tentu Dari sebagian pengertian yang dijelaskan diatas, kami bisa menyimpulkan kalau pada umumnya, profesi yaitu semua aktivitas atau kegiatan kerja yang dikerjakan oleh manusia dengan dibekali ketrampilan serta keterampilan spesifik untuk memperoleh hasil berbentuk gaji atau upah dalam kurun saat spesifik.

Zakat Profesi Menurut Yusuf Qardhawi

Pengertian profesi dengan cara lebih terperinci bisa dibedakan jadi dua kelompok. Pertama, profesi yg tidak terserang keharusan zakat, ke-2 profesi yang harus zakat. Profesi yg tidak harus zakat yaitu profesi yang dikerjakan oleh seorang dengan ketrampilan spesifik untuk memperoleh upah. Mengenai profesi yang harus zakat yaitu profesi yang dikerjakan oleh manusia dengan ketrampilan spesifik yang dikerjakan dengan gampang serta menghadirkan hasil (pendapatan) yang cukup melimpah (diatas rata-rata pendapatan masyarakat). Misalnya komisaris perusahaan, bankir, konsultan, analisa, broker, dokter spesialis, pemborong beragam konstruksi, eksportir serta importir, akuntan, artis, notaris, serta beragam penjual layanan, dan beberapa macam profesi kantoran (white collar) yang lain.

Berarti kalau, gampang serta cukup melimpah itu diatas yaitu bisa saja dengan periode waktu yang sama dalam lakukan pekerjaan atau profesinya, seorang bakal memperoleh pendapatan atau pendapatan yang jauh tidak sama. Umpamanya pada seseorang buruh bangunan yang bekerja siang serta malam kurun waktu sebulan, mungkin saja cuma memperoleh hasil yang cukup untuk makan serta keperluan keseharian keluarganya, sedang seseorang dokter spesialis juga kurun waktu sebulan sangat mungkin memperoleh hasil yang kian lebih cukup untuk keperluan keseharian berbarengan keluarga. Jadi, profesi seperti dokter spesialis itu yang bisa saja harus zakat atas basic gampang serta melimpahnya hasil yang didapat. Mahjuddin juga melukiskan sebagian contoh profesi yang bisa saja harus zakat, diantaranya :

a. Profesi dokter (The medical profession).
b. Profesi pekerja tehnik/Insinyur (The engineering profession).
c. Profesi guru, dosen, guru besar atau tenaga pendidik (The teaching profession).
d. Profesi advokat (pengacara), konsultan, wartawan, dsb.

Pengertian Zakat Profesi

Menurut Yusuf Qardlawi, kelompok zakat profesi (yang harus dizakati) yaitu semua jenis pendapatan yang didapat tidak dari harta yang telah dipakai zakat. Sebagai bahan perbandingan baca pengertian zakat berdasar sebagian ulama. Berarti, zakat profesi didapat dari hasil usaha manusia yang menghadirkan pendapatan serta telah meraih nishab. Tidak dari type harta kekayaan yang memanglah telah diputuskan kewajibannya lewat al-Qur’an serta hadits Nabi, seperti hasil pertanian, peternakan, perdagangan, harta simpanan (duit, emas, serta perak), serta harta rikaz. Jadi keharusan zakat profesi adalah keharusan baru dari hasil ijtihad ulama yang belum diputuskan terlebih dulu, lewat dalil al- Qur’an maupun al-Sunnah.

Mahjuddin memiliki pendapat, zakat profesi dalam bhs arab disimpulkan berarti zakat yang di keluarkan dari sumber usaha profesi atau pendapatan layanan. Dalam bukunya Masail Fiqhiyah, Masjfuk Zuhdi juga memberi keterangannya mengenai zakat profesi, yakni zakat yang didapat dari semuanya type pendapatan yang halal yang didapat tiap-tiap individu Muslim, jika sudah meraih batas minimal terserang zakat (nishab) serta sudah jatuh tempo/haul-nya.

Menurut Didin Hafidhuddin, zakat profesi yaitu zakat yang dipakai pada setiap pekerjaan atau ketrampilan spesifik, baik yang dikerjakan sendirian ataupun berbarengan orang lain/dengan instansi lain, yang menghadirkan pendapatan (duit) yang penuhi nishab (batas minimal untuk berzakat).

Berdasar pada sebagian pengertian zakat profesi diatas, bisa diambil kesimpulan kalau zakat profesi yaitu zakat yang di keluarkan dari hasil usaha yang halal yang bisa menghadirkan hasil (duit) yang relatif banyak lewat cara yang gampang, lewat satu ketrampilan spesifik serta telah meraih nishab.

Maraji’
Amir Syarifuddin, Pembaharuan Pemikiran Dalam Hukum Islam, Jakarta:Logos, 1987, Jilid I.
Hamid Laonso dam Muhammad Jamil, Hukum Islam Alternatif, Solusi Terhadap Masalah Fiqh Kontemporer, Jakarta: Restu Ilahi, 2005, Cet. I.
Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Semarang: Toha
Putra, 1996.
Abdul Wahhab Khallaf, Ilmu Ushul Fiqh, Terj. Kitab Ilmu Ushul Fiqh, Semarang : Dina Utama Semarang, Cet. I.
al-Amidi, al-Ihkam Fi Ushulil Ahkam, Lebanon: Daar el Fikr, Juz III.
Wahbah az-Zuhaili, Ushul al-Fiqh al-Islami, Beirut: Daar el-Fikr, 1986, hlm.
Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an, Bandung: Mizan, 1999, Cet. XIX.
Yusuf Qardawi, Hukum Zakat terj, Jakarta: 2011.

No comment for Pengertian Zakat Profesi Menurut Yusuf Qardhawi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!