Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » Zakat Profesi » Cara Menghitung Zakat Profesi, Zakat Penghasilan Bulanan

Cara Menghitung Zakat Profesi, Zakat Penghasilan Bulanan

(824 Views) Maret 12, 2016 7:55 am | Published by | No comment

cara menghitung zakat peghasilanCara Menghitung Zakat Profesi dan Zakat Penghasilan Bulanan yang benar menurut Ijtihad para ulama dan sudah dilakukan oleh Sahabat Rasulullah SAW salah satunya adalah Ibnu Mas’ud ra, kemudian sahabat rasul yang lain adalah Muawiyah ra, dan Umar bin Abdul Aziz ( wafat 101 H/720 M) mereka adalah pengikut rasulullah yang setia dan sudah berhasil dalam masa kepemimpinanya dalam pemerintahan Islam, yang sudah menerapkan aturan zakat profesi ke semua pegawai pemerintahan pada saat itu, dan pada masa itu justru kesusahan dalam mendapatkan “mustahik” karena saking berlimpahnya zakat yang dikelola negara pada masa kepemimpinan sahabat rasulullah tersebut. (Fiqh Islam wa Adhilatuhu). Dan pada saat ini seiring perkembangan zaman yang semakin beragam sumber pendapatan masyarakat, maka upaya menghidupkan zakat profesi dan penghasilan dihidupkan kembali, seperti contoh sumber penghasilan pegawai, atau gaji bulanan dan persamaanya. Jadi zakat profesi bukanlah Ijtihad Baru, melainkan sudah ada sejak Tahun 101 H.

Kemudian berkenaan mengenai Qiyas atas zakat profesi dengan pertanian atau hasil bumi memang masih terdapat khilaf pendapat. Namun tidak ada khilaf dalam qiyas zakat profesi ini dengan harta atau emas. Karena itu, letak perbedaan atas qiyasnya, bukan atas hukumnya.

Pengertian Zakat Profesi :

Zakat profesi adalah peghasilan yang didapat oleh seseorang atas jasa/pekerjaanya, seperti :

  • Pegawai Negeri Sipil (PNS)
  • TNI – POLRI
  • Karyawan Swasta
  • Guru/Dosen
  • Dokter
  • Dll

Pendapatanya bisa berupa pendapatan Harian, Mingguan, Bulanan atau Tahunan yang telah sampai kadar nishabnya.

Dalil – Dalil Tentang Zakat :

Banyak sekali di dalam Alquran ayat-ayat yang bersifat umum mewajibkan semua jenis harta untuk dikeluarkan zakatnya, ayat-ayat alquran tersebut adalah :

  • QS. At-Taubah : 103
  • QS. Al-Baqarah : 267
  • QS. Adz-Zaariyat : 19

Adapula penjelasan Rasulullah SAW tentang zakat dari hasil usaha atau profesi bersifat umum, yaitu dari riwayat Abu Ubaid : ” Adalah Umar bin Abdul Aziz, memberikan upah kepada pekerjanya dan mengambil zakatnya, dan apabila mengembalikan Al-Madholim diambil zakatnya, dan beliau juga mengambil zakat dari athoyat ( gaji rutin ) yang diberikan kepada yang menerimanya”.

 

Berikut ini Cara Menghitung Zakat Profesi, Zakat Penghasilan Bulanan

Ada tiga cara untuk menghitung zaakt penghasilan, perhitungan ini diqiaskan dengan zakat uang dan pertanian :

  1. Cara menghitung zakat yang diqiaskan dengan zakat uang (naqdim) sepenuhnya. Qias ini kurang mendorong masyarakat untuk berzakat, tidak proporsional dengan zakat pertanian, dan kurang berpihak kepada fakir miskin. Diqiaskan dengan zakat hasil tani sepenuhnya. Agak memberatkan muzakki, dan kurang mempertimbangkan perbedaan sifat hasil tani dengan upah kerja.
  2. Cara menghitung zakat memakai qias kemiripan (syibih) dengan zakat uang dan hasil tani. Qias ini tidak memberatkan muzakki, lebih mendorong untuk berzakat dan lebih berpihak kepada fakir miskin.
  3. Cara menghitung zakat dengan Qias Zakat Uang, Zakat Hasil Tani, Nishab 85 gram emas, 653 kg beras, kadar zakat  2,5%, 5 %, atau 10 %. Haul 1 Tahun setiap menerima penghasilan, pemotongan dipotong keperluan dan pembayaran hutang.

Contoh cara perhitungan zakat dengan menggunakan Qias ke 3 :

Bapak Muhamad Fadli adalah pegawai perusahaan swasta. Setiap bulan beliau mendapatkan gaji dari perusahaan tersebut sebesar Rp. 8.000.000,-. Dari gajinya tersebut, bapak muhamad fadli mengeluarkan biaya pokok rutin seperti biaya rumah tangga, sebesar Rp. 2.500.00,-, membayar sekolah 3 orang anak sebesar Rp. 1.000.000,-, membayar kontrakan rumah sebesar Rp. 700.000,- dan membayar PDAM dan listrik sebesar Rp. 500.000,-.

  • Nishab : setara dengan 653 kg beras. Jika beras harga Rp. 10.000,- per kg, maka nishab dalam rupiahnya Rp. 6.530.000,-
  • Kadar zakat : 2,5%
  • Haul              : Setiap menerima gaji
  • Total keperluan asasi dan membayar hutang adalah : Rp. 2.500.000,- + 1.000.000,- + 700.000,- + 500.000,- = Rp. 4.700.000,-
  • Jadi penghasilan bersih pak M. Fadli adalah Rp. 8.000.000 – Rp. 4.700.000 = Rp. 3.300.000/bulan
  • Rp. 3.300.000 ini tidak mencapai nishab sebesar Rp. 6.530.000. Jadi pak M. Fadli tidak perlu membayar zakat penghasilan
  • Jika seandainya penghasilan pak M. Fadli adaalh Rp. 12.000.000/bulan (bukan 8 juta/bulan). Maka penghasilan bersihnya setelah dipotong keperluan asasi dan hutang jatuh tempo adalah : Rp. 12.000.000 – Rp. 4.700.000 = Rp. 7.300.000 , berarti ini sudah melebihi nishab yang sebesar Rp. 6.530.000.
  • Dengan demikian pak M. Fadli wajib mengeluarkan zakat profesi sebesar : 2,5% x Rp. 4.700.000 = Rp. 117.000

Ada juga pertanyaan seperti ini :

  • Jika kita perhitungkan “pengeluaran” maka bisa juga semua orang tidak jadi berzakat, karena banyak yang minus dari kebutuhan asas/dasarnya.
  • Karena zakat profesi ini adalah merupakan hasil ijtihad para ulama, maka cara perhitunganya tergantung ijtihad ulama. Secara umum ada 3 cara perhitunganya :
  1. Langsung dihitung dari gaji yang diterima
  2. Dikurangi keperluan asasi ( yang benar-benar penting)
  3. Dikurangi biaya hidup yang sebenarnya

Jika kita menggunakan cara hitung yang pertama, maka zakat penghasilan kita terlihat besar, dan tidak memperhitungkan aspek keperluan seseorang. Orang kaya mungkin tidak masalah dengan cara pertama, tapi sebaliknya orang yang berpenghasilan sedang-sedang saja, tentu agak keberatan dengan cara hitung zakat yang pertama. Dikhawatirkan dia menjadi benci dengan zakat, dan pada akhirnya benci dengan ajaran islam karena dianggap memberatkan.

Tapi jika mengambil cara ketiga yaitu dihitung dari sisa pengeluaran yang sebenarnya, bisa jadi setiap orang terlepas dari zakat pendapatan karena tidak sampai nishab. Dn bisa jadi orang ini termasuk kategori miskin dan layak menerima zakat.

Sepertinya perhitungan ke-2 lah yang keihatanya adil, karena tidak menyebabkan zakat seseorang menjadi terlalu besar dan pada saat yang bersamaan tidak menyebabkan seseorang itu terlepas dari kewajiban menunaikan zakat profesinya.

 

Pengertian Pengeluaran Asasi :

Pengertian pengeluaran asasi menurut banyak kajian, seperti salah seorang pakar ekonomi syariah di Indonesia Adiwarman A Karim membedakan bahwa needs adalah sesuatu yang sifatnya pokok, penting untuk esensi hidup dan relatif konstan dalam hidup seseorang. sedangkan wants sangat dipengaruhi oleh sifat serakah, selalu ingin bertambah dan kadang tidak rasional. Keperluan hidup itu bersifat relatif tetap dari waktu ke waktu, relatif dapat diprediksi dan penting bagi kelangsungan hidup kita. Ulama menambahkan pelunasan harta juga akan menjadi pengurang harta yang diperoleh per tahunya.

Jadi yang dimaksud keperluan asasi adalah pengeluaran asasi bag idiri sendiri, istri dan anak seperti makanan, pakaian, kesehatan, pendidikan dan tempat tinggal. Pemberian kepada orang tua, pembayaran superannuation, cicilan rumah, bayar hutang penting lainya.

Yang bukan termasuk keperluan asasi adalah kursus mobil, atau les tambahan untuk anak, membeli tv LED padahal masih ada tv masih bagus, jalan-jalan keluar negeri, makan direstoran tiap minggu, dan keperluan tidak penting lainya.

 

Sumber artikel : Dewan Syariah Rumah zakat – sumber-sumber masa kini dan cara menghitung Zakatnya PKPU – Fiqh Zakat.

 

No comment for Cara Menghitung Zakat Profesi, Zakat Penghasilan Bulanan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!